Bab Menerangkan Bahwa Isnad itu Dari Agama, Riwayat Itu Harus Dari Orang-Orang Yang Terpercaya, Dan Mencela Perawi Hadits, Seperti Adanya Itu Hukumnya Boleh Bahkan Wajib, Dan Itu Bukan Termasuk Perbuat-an Mempergunjingkan Orang Lain Yang Diharamkan, Melainkan Malah Demi Membela Kepentingan Syari'at Yang Mulia. (bagian 2). Bagian 1 disini
------------------
Imam Muslim mengatakan: "Aku mendengar Abu Ghussan alias Muhammad bin Amer Ar Razi pernah mengatakan: "Aku pernah bertanya kepada Jarir bin Abdul Hamid: "Apakah Anda pernah bertemu Al Harits bin Hashirah?" Jarir menjawab: "Ya. Dia itu orang yang sudah tua yang pendiam namun juga suka membual."
Diceritakan oleh Ahmad bin Ibrahim Ad Dauraqi bersumber dari Hammad bin Zaid yang mengatakan: "Suatu hari Ayyub menyebut-nyebut tentang seorang laki-laki yang mulutnya suka plan plin. Ternyata yang dia maksudkan ialah Yazid Ar Raqmi."
Diceritakan oleh Hajjaj bin Sya'ir dari Hammad bin Zaid yang mengatakan: "Ayyub pernah bercerita: "Aku punya seorang tetangga yang sebenarnya cukup baik. Namun sayangnya dia selalu memperhatikan urusanku sampai yang paling kecil sekalipun".
Diceritakan oleh Muhammad bin Rafi'; dia berkata: "Ma'mar pernah mengatakan: "Aku sama sekali tidak pernah melihat Ayyub menggunjing seorang pun kecuali kepada Abdul Karim alias Abu Umayyah. Namun setelah menyebut-nyebut Abdul Karim, dia selalu mendo'akan semoga Allah merahmatinya. Padahal Abdul Karim adalah orang yang tidak bisa dipercaya. Dia kalau menjawab pertanyaan seenaknya saja."
-----
Diceritakan oleh Hammam; dia berkata: "Abu Daud Al A'ma datang kepadaku seraya bilang bahwa dia mendapatkan cerita hadits dari Al Barra' dan Al Barra' bertanya mendapatkannya dari Zaid bin Arqam. Ketika hal itu akan tuturkan kepada Qatadah, dia mengatakan: "Orang itu berdusta. Tidak benar omongannya tersebut. Sesungguhnya dia itu hanyalah seorang yang kerjanya meminta-minta manusia, dan meninggal diserang penyakit tha'un".
Bersumber dari Ibnu Ali Al Hulwani dari Hammam; dia berkata: "Abu Daud Al A'ma datang menemui Qatadah". Ketika Abu Daud berdiri untuk berpamitan, teman-teman Qatadah sama bilang: "Sesung-guhnya orang tadi itu mengakui bahwasanya dia pernah bertemu dengan delapan belas pasukan Badar." Qatadah berkata: "Itu tidak benar. Dia itu hanya seorang peminta-minta. Jadi dia hanya membual saja. Dia tidak pernah berniat membicarakan mengenai masalah hadits."
Diceritakan oleh Utsman bin Abu Syaibah dari Raqabah; sesungguhnya Abu Ja'far Al Hasyimi Al Madani menulis beberapa tulisan yang sejatinya bukan termasuk hadits-hadits nabi sholallahu alaihi wasalam. akan tetapi dia meriwayatkannya sebagai hadits yang berasal dari nabi sholallahu alaihi wasalam."
Diceritakan oleh Hasan bin Ali Al Hulwani dari Syu'bah, dari Yunus bin Ubaid; dia mengatakan: "Amer bin Ubaid itu biasa mendustakan hadits."
Diceritakan oleh Amer bin Ali alias Abu Hafesh; dia berkata: "Aku mendengar Mu'adz bin Mu'adz pernah mengatakan: "Aku pernah berkata kepada Auf bin Abu Jamilah bahwa dia mendapatkan cerita dari Hasan; sesungguhnya Rasulallah sholallahu alaihi wasalam. itu pernah bersabda: "Barang-siap yang membawakan pedang kepada kami maka dia bukan termasuk golongan kami". Mendengar itu Auf bin Abu Jamilah berkata: "Dia itu berdusta. Demi Allah, dia memang suka ngomong yang tidak-tidak dan yang bathil."
Diceritakan oleh Ubaidillah bin Amer Al Qawariri dari Hammad bin Zaid; dia mengatakan: "Seorang lelaki sudah lama ikut tinggal bersama Ayyub dan dia sudah banyak mendengarkan hadits darinya. Suatu hari lelaki itu raib dan lama tidak kembali. Teman-teman Ayyub melaporkan: "Wahai Abu Bakar, sesungguhnya laki-laki itu sekarang sudah ikut tinggal bersama Amer bin Ubaid. Pada suatu hari ketika kami hendak pergi ke pasar, di tengah jalan kami bertemu dengan laki-laki tersebut. Setelah mengucapkan salam, Abu Ayyub mencoba bertanya kepadanya. Kata Ayyub lebih lanjut: "Aku dengar katanya kamu sekarang tinggal bersama Amer bin Ubaid." Laki-laki itu menjawab: "Benar. Tetapi dia suka menyampaikan kepadaku hadits yang aneh-aneh". Ayyub lalu berkata kepadanya: "Kita seharusnya menjauhi dari yang aneh-aneh seperti itu."
Diceritakan oleh Hajjaj bin Sya'ir dari Ibnu Zaid alias Hammad; dia berkata: "Suatu hari Ayyub mendapat laporan bahwa sesungguhnya Amer bin Ubaid mendapatkan riwayat dari Al Hasan yang berbunyi: "Orang mabuk karena minum minuman yang terbuat dari buah anggur itu tidak dihukum dera." Ayyub mengatakan: "Orang itu berdusta. Sebab aku sendiri juga pernah mendengar Hasan mengatakan bahwa orang yang mabuk karena minum minuman yang terbuat dari buah anggur itu harus dihukum dera."
Diceritakan oleh Al Hajjaj dari Sulaiman bin Hareb; dia mengatakan: "Pernah aku mendengar Sallam bin Abu Muthi' mengatakan: "Ayyub mendengar bahwa aku baru saja menemui Amer. Pada suatu hari Ayyub bertandang kepadaku dan berkata: "Bagaimana pendapatmu mengenai seseorang yang kwalitas beragamanya saja tidak bisa dijamin, apakah hadits yang diceritakannya bisa dijamin keasliannya?"
Diceritakan oleh Salamah bin Syabib dari Sufyan; dia berkata: "Aku mendengar Abu Musa pernah mengatakan: "Amer bin Ubaid pernah menceritakan suatu hadits kepadaku sebelum dia menjadi seorang yang menganut aliran mu'tazilah sekaligus qadariyah".
Diceritakan oleh Ubaidillah bin Mu'adz Al Anbari, dari ayahmu; dia mengatakan: "Aku mengirimkan sepucuk surat kepada Syu'bah yang isinya menanyakan kepada beliau mengenai Abu Syaibah seorang qadli yang katanya adil. Lalu Syu'bah membalas suratku itu yang isinya: "Jangan menulis hadits darinya. Dan sobeklah tulisanmu itu."
Diceritakan oleh Al Hulwani; dia mengatakan: "Aku mendengar Affan mengatakan: "Aku menceritakan suatu hadits kepada Hammad bin Salamah yang berasal dari Shaleh Al Muriyyi dan bersumber dari Tsabit. Tetapi Hammad tidak mau dan bilang kalau Tsabit itu suka berdusta. Ketika hal itu aku ceritakan kepada Hammam, dia juga enggan dan bilang: "Tsabit itu orang yang suka berdusta."
Diceritakan oleh Mahmud bin Ghailan dari Abu Daud; dia bilang: "Syu'bah mengatakan kepadaku: "Temuilah Jarir bin Hazim dan kata-kan padanya, bahwa sesungguhnya tidak halal bagimu meriwayatkan dari Hasan bin Ummarah, karena dia adalah orang yang suka berdusta". Aku lalu bertanya kepada Syu'bah: "Lalu bagaimana cerita-nya?" Syu'bah menjawab: "Aku mendapatkan banyak cerita hadits dari Al Hakam yang tidak aku temukan dasarnya.
Aku tanyakan kepada Al Hakam: "Apakah nabi sholallahu alaihi wasalam. menyembahyangi para sahabat yang gugur dalam pertempuran Uhud?" Al Hakam menjawab: "Nabi sholallahu alaihi wasalam. tidak menyembahyangi mereka." Tapi Hasan mengatakan mendapatkan cerita dari Hakam, dari Miqsam, dan dari Ibnu Abbas; sesungguhnya nabi sholallahu alaihi wasalam. menyembahyangi bahkan memakamkan mereka."
Kemudian aku tanyakan kepada Al Hakam: "Bagaimana menurutmu mengenai anak-anak hasil hubungan zina yang meninggal dunia?" Dia menjawab: "Nabi sholallahu alaihi wasalam. menyembahyangi mereka". Aku bertanya: "Dari haditsnya siapakah hal itu diriwayatkan?" Al Hakam menjawab: "Dari haditsnya Hasan Al Bashri yang katanya dia mendapatkannya dari Yahya bin Al Jazzar dan dari Ali".
Diceritakan oleh Hasan Al Hulwani; dia berkata: "Aku mendengar Yazid bin Harun menyebut-nyebut mengenai Ziyad bin Maimun, dan dia berkata: "Aku bersumpah tidak akan meriwayatkan sesuatu pun darinya, dan juga tidak dari Khalid bin Mahduj. Suatu hari aku ketemu Ziyad bin Maimun dan aku meminta dia menceritakan hadits kepadaku. Ziyad penuhi permintaanku itu. Mula-mula dia menceritakan kepadaku hadits yang berasal dari Abu bakar Al Muzani. Kemudian aku memintanya lagi dan diceritakannya hadits yang berasal dari Muwarraq. Kemudian aku memintanya lagi dan diceritakannya hadits yang berasal dari Hasan. Tetapi aku tahu kedua yang terakhir tadi suka berdusta."
Diceritakan oleh Mahmud bin Ghailan; dia berkata: "Aku bertanya kepada Abu Daud Ath Thayalisi: "Anda sudah banyak mendapatkan riwayat hadits dari Abbad bin Manshur. Mengapa Anda tidak mau mendengar darinya haditsnya yang diriwayatkan oleh Ziyad bin Maimun yang juga diriwayatkan kepadaku oleh Nadher bin Syumail?" Abu Daud berkata kepadaku: "Diamlah kamu". Suatu hari aku bertemu dengan Ziyad bin Maimun dan Abdurrahman bin Mahdi. Aku tanyakan kepadanya: "Hadits-hadits ini Anda riwayatkan dari Anas?" Dia menjawab: "Bagaimana menurutmu mengenai seseorang yang merasa berdosa lalu dia bertaubat, bukankah Allah akan menerima taubatnya?" Aku menjawab: "Tentu saja." Lalu dia bilang: "Sedikit banyak aku tidak pernah mendengar dari Anas. Kalau orang-orang tidak mengetahui hal ini, biarlah kamu saja yang tahu bahwa sejatinya aku memang tidak pernah bertemu dengan Anas."
Diceritakan oleh Abdul Quddus; dia berkata: "Rasulallah sholallahu alaihi wasalam. melarang gambar hewan ditempelkan di dinding lalu dibidik sebagai sasaran."
Imam Muslim mengatakan: "Aku mendengar Ubaidillah bin Umar Al Qawariri pernah mengatakan: "Aku mendengar Hammad bin Zaid pernah berkata kepada seorang laki-laki yang beberapa hari sebelumnya sering menemui Mahdi bin Hilal: "Khabarnya dia itu bukan orang yang layak meriwayatkan hadits, ya?" Laki-laki itu menjawab: "Memang benar, wahai Abu Ismail".
Diceritakan oleh Hasan Al Hulwani; dia berkata: "Aku mendengar Affan pernah mengatakan: "Aku mendengar Abu Awanah pernah mengatakan: "Tidak ada sebuah hadits pun dari Hasan yang sampai kepadaku. Kecuali yang dibawa oleh Abban bin Abu Ayyasy. Dia pernah membacakannya kepadaku."
Diceritakan oleh Suwaid bin Sa'id dari Ali bin Mushir; dia berkata: "Saya dan Hamzah Az-zayyat pernah mendengar dari Abbas bin Abu Ayyasy sekitar seribu hadits." Kata Ali: "Suatu hari aku bertemu dengan Hamzah. Dia memberitahukan kepadaku bahwa dia bermimpi dan ketemu dengan nabi sholallahu alaihi wasalam. Dalam mimpinya itu Hamzah memperlihatkan kepada nabi sholallahu alaihi wasalam. apa yang didengar dari Abban. Ternyata yang dia ketahui daripadanya hanya sedikit sekali, yakni sekitar lima atau enam."
Diceritakan oleh Abdullah bin Abdurrahman Ad Darami, dari Za-karia bin Adai yang berkata: "Abu Ishak Al Fazari bilang kepadaku: "Tulislah hadits dari yang diriwayatkan oleh orang-orang yang terkenal saja. Jangan kamu tulis ia dari orang-orang yang tidak terkenal. Tetapi sekalipun itu diriwayatkan dari orang-orang yang terkenal, tetap jangan kamu tulis apabila itu berasal dari Ismail bin Ayyasy".
Diceritakan oleh Ishak bin Ibrahim Al Handhali; dia berkata: "Aku mendengar salah seorang sahabat Abdullah berkata: "Ibnu Al Mubarrak mengatakan: "Sebaik-baiknya laki-laki ialah Baqiyyat seandainya dia tidak mempunyai kebiasaan merahasiakan nama seseorang yang dia riwayatkan haditsnya. Menurut cerita Abu Sa'id Al Wukhathi padaku, dia orangnya sudah cukup tua. Setelah bisa melihatnya sendiri, ternyata dia adalah Abdul Quddus."
Diceritakan oleh Ahmad bin Yusuf Al Azdi; dia berkata: "Aku mendengar Abdurrazaq pernah mengatakan: "Aku tidak pernah melihat Ibnu Al Mubarak demikian ketus dan antusiasnya mengecap seseorang sebagai pendusta kecuali terhadap Abdul Quddus, dan aku memang pernah mendengarnya sendiri."
Diceritakan oleh Amer bin Ali dan Hasan Al Hulwani bersumber dari Affan bin Muslim; dia berkata: "Suatu hari aku berada di samping Ismail bin Ulayyat. Lalu tiba-tiba aku lihat ada seseorang membicarakan orang lain. Aku lalu menyela: "Sesungguhnya orang yang Anda bicarakan itu bukanlah orang yang bisa dipercaya". Laki-laki tadi kelihatannya keberatan lalu berkata kepadaku: "Anda mencelanya?" Ismail segera menjawab: "Dia bukan mencelanya, tetapi itu memang kenyataan bahwa orang itu memang tidak bisa dipercaya."
Diceritakan oleh Abu Ja'far Ad Darami dari Bisyru bin Umar; dia mengatakan: "Aku pernah bertanya kepada Malik bin Anas mengenai Muhammad bin Abdurrahman yang biasa meriwayatkan dari Sa'id bin Al Musayyab. Dan jawab Malik: "Dia itu orang yang tidak bisa dipercaya." Aku tanyakan kepadanya mengenai Shaleh sayidnya Taumah. Dan Malik menjawab: "Dia juga orang yang tidak bisa dipercaya." Aku tanyakan kepadanya mengenai Abu Al Huwairits. dan dia menjawab: "Dia itu orang yang tidak dapat dipercaya." Aku tanyakan pula kepadanya mengenai seseorang yang bernama Syu'bah yang haditsnya biasa diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dzi'bi, dan dia menjawab: "Dia itu juga orang yang tidak bisa dipercaya". Aku tanyakan kepadanya mengenai Haram bin Utsman, dan dia menjawab: "Dia itu juga orang yang tidak dapat dipercaya". Aku tanyakan sekali lagi kepadanya mengenai kelima orang tersebut di atas, dan dia tetap menjawab: "Bahwa mereka itu tidak dapat dipercaya dalam hadits-hadits mereka." Dan terakhir aku juga menanyakan kepada Malik mengenai orang lain yang aku sendiri lupa namanya, dan dia balik bertanya: "Apakah kamu pernah melihatnya dalam kitab-kitabku?" Aku jawab: "Tidak". Malik berkata: "Kalau benar dia itu orang yang dapat dipercaya, tentunya kamu pernah melihatnya di kitab-kitabku."
Diceritakan oleh Al Fadhel bin Sahel; dia berkata: "Menurut Ibnu Abu Dzi'bi, Syurahbail bin Sa'ad itu adalah orang yang dicurigai kejujurannya."
Diceritakan oleh Muhammad bin Abdullah bin Qahzadza; dia berkata: "Pernah aku mendengar Abi Ishak Ath Thaliqani mengatakan: "Aku pernah mendengar Ibnu Al Mubarak mengatakan: "Sekiranya aku disuruh memilih antara masuk sorga dan harus bertemu dengan Abdullah bin Muharrar, niscaya akan aku pilih ketemu dia terlebih dahulu baru aku masuk sorga. Tatkala aku melihatnya, ternyata kotoran hewan lebih aku sukai ketimbang dia."
Diceritakan oleh Al Fadhel bin Sahel dari Walid bin Shaleh; dia berkata: "Ubaidillah bin Amer mengatakan: "Zaid, yaitu saudaranya Abu Unaisah, pernah mengatakan: "Janganlah kamu mengambil hadits dari saudaraku ini."
Diceritakan oleh Ahmad bin Ibrahim Ad Dauraqi dari Ubaidillah bin Amer; dia mengatakan: "Yahya bin Abu Unaisah itu seorang pendusta."
Diceritakan oleh Ahmad bin Ibrahim dari Hammad bin Zaid; dia mengatakan: "Suatu hari nama Farqad disebut-sebut di sisi Ayyub. Maka kata Ayyub: "Sesungguhnya Farqad itu bukan orang yang layak berbicara mengenai hadits."
Diceritakan oleh Abdurrahman bin Bisyri Al Abdiyi; dia berkata: "Aku mendengar nama Muhammad bin Abdullah bin Ubaid bin Umair Al Laitsi disebut-sebut di sisi Yahya bin Sa'id bin Qatthan, yang menganggapnya sebagai orang yang sangat lemah (dla'if) sekali. Ketika Yahya ditanya: "Apakah Muhammad bin Abdullah bin Ubaid bin Umair Al Laitsi itu lebih dla'if daripada Ayyub bin Atha'?" Yahya menjawab: "Ya. Sepanjang pengetahuanku, tidak ada seorang pun yang mau meriwayatkan hadits dari Muhammad bin Abdullah bin Ubaid bin Umair."
Diceritakan oleh Bisyru bin Al Hakam; dia berkata: "Aku mendengar Yahya bin Sa'id Al Qaththan menganggap dla'if Hakim dan Abdul A'la serta Yahya bin Musa bin Dinar. Katanya: "Haditsnya Yahya bin Musa bin Dinar itu adalah angin". Selain itu, dia juga menganggap dla'if Musa bin Dahqan dan Isa bin Abu Isa Al Madani. Dia berkata: "Aku mendengar Hasan bin Isa pernah mengatakan: "Ibnu Al Mubarak pernah berkata kepadaku: "Apabila kamu sempat bertemu dengan Jarir, maka tulislah seluruh haditsnya kecuali hadits dari tiga orang. Jangan kamu tulis haditsnya Ubaidah bin Mu'attab, Assari bin Ismail dan Muhammad bin Salim."
Kata imam Muslim: "Sebetulnya masih banyak lagi perawi-perawi hadits yang diragukan kejujurannya selain yang telah tersebut di atas. Akan panjang sekali kalau harus aku sebutkan semuanya. Jadi apa yang telah kita ketahui bersama kiranya sudah cukup.
Mengungkap cacat-cacat yang ada pada perawi dan pengutip hadits, adalah suatu keharusan. Fatwa sepahit apapun rasanya tetap harus diberikan jika itu memang diperlukan. Sebab kalau tidak tentu akan sangat berbahaya. Betapapun persoalan hadits adalah persoalan yang menyangkut agama yang secara tegas menerangkan mengenai kehalalan, keharaman, perintah, larangan, dorongan dan peringatan. Apabila seorang perawi sudah tidak jujur dan tidak dapat dipercaya sehingga dia asal saja berhubungan dengan orang yang tidak dikenalnya, maka perbuatannya tersebut merupakan suatu dosa. Dan lebih dari itu dia akan menjadi penipu terhadap orang-orang Islam yang awam. Sebab apa yang dia lakukan itu akan sangat riskan sekali, karena sangat mungkin sekali akan disalah gunakan oleh orang lain. Betapa tidak? Hadits-hadits yang shaheh dari riwayat orang-orang yang terpercaya saja sering dikutip oleh orang yang tidak percaya. Apalagi hadits-hadits macam itu.
Aku tidak mengira begitu banyak orang berminat terhadap hadits-hadits dla'if dan sanad-sanad yang tidak diketahui seperti yang telah aku singgung dalam pembicaraan di atas. Akibatnya mereka begitu saja mau meriwayatkannya, padahal mereka tahu bahwa tindakan itu tidak layak untuk dilakukan. Aku pikir maksud mereka dengan melakukan hal itu ialah untuk memberikan kesan atau pamer kepada orang-orang awam bahwa dia mampu menghimpun dan menulis banyak sekali hadits. Orang yang melakukan perbuatan seperti itu sejatinya dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Dia bahkan lebih pantas untuk disebut sebagai orang bodoh, sekali pun dia mengklaim diri sebagai orang yang berilmu.
Sementara pemerhati hadits sekarang ini, terutama yang menyangkut mengenai keabsahan dan tidaknya suatu sanad, menegaskan: "Kalau kami biarkan saja hal tersebut dan tidak kami singgung-singgung aspek-aspek negatifnya, maka tak pelak hal itu akan menjadi suatu pendapat yang kuat sekaligus menjadi suatu madzhab atau aliran yang sah."
Menjauhkan ucapan yang tidak benar dalam masalah hadits, adalah salah satu upaya membungkam dan menghentikan langkah para pelakunya. Hal itu memang seharusnya dilakukan untuk memberikan per-ingatan kepada orang-orang yang memang tidak mengetahuinya. Kalau memang kita takut pada akibat-akibat yang buruk; di mana orang-orang yang tidak tahu akan terjebak pada perkara-perkara yang diadakan sehingga mereka gampang meyakini kebenaran hal-hal yang sejatinya keliru di mata para ulama, maka untuk itu kita harus berani bertindak tegas. Kita harus berani mengungkap ucapan-ucapan yang bathil dan menolak ucapan-ucapan lain kalau memang itu patut untuk ditolak. Hal itu akan lebih bermanfaat bagi semua orang dan lebih baik akibatnya apabila dikehendaki oleh Allah.
Ada orang yang beranggapan, bahwa suatu isnad hadits itu harus oleh si fulan dari si fulan, dan diketahui bahwa keduanya pernah hidup dalam satu kurun masa. Atau boleh saja pihak perawi benar-benar pernah mendengar dan bercakap-cakap mulut ke mulut dengan orang yang bersangkutan. Atau setidaknya memang diketahui bahwa keduanya pernah berkumpul minimal sekali, atau keduanya bercakap-cakap mulut ke mulut membicarakan mengenai hadits, atau ada khabar yang menerangkan bahwa keduanya pernah berkumpul dan bertemu minimal sekali. Kalau sampai semua itu tidak diketahui, dan juga tidak ada riwayat yang benar yang mengkhabarkan bahwa si perawi pernah bertemu dengan kawannya yang bersangkutan minimal sekali, maka khabar yang ada padanya berstatus mauquf, sampai ada bukti yang menyatakan bahwa dia pernah mendengar suatu hadits dari kawannya yang bersangkutan, baik sedikit maupun banyak.

Posting Komentar