001. 05 Muqodimah Bab 5. Menerangkan Bahwa Isnad itu Dari Agama, Riwayat Itu Harus Dari Orang-Orang Yang Terpercaya ... (1)

Bab Menerangkan Bahwa Isnad itu Dari Agama, Riwayat Itu Harus Dari Orang-Orang Yang Terpercaya, Dan Mencela Perawi Hadits, Seperti Adanya Itu Hukumnya Boleh Bahkan Wajib, Dan Itu Bukan Termasuk Perbuat-an Mempergunjingkan Orang Lain Yang Diharamkan, Melainkan Malah Demi Membela Kepentingan Syari'at Yang Mulia. (bagian 1)

Bersumber dari Muhammad bin Sirin; dia berkata: "Sesungguhnya ilmu itu adalah agama. Maka lihatlah lebih dahulu dari siapa kamu mengambil agamamu." 

Bersumber dari Ibnu Sirin; dia berkata: "Mereka tidak menanyakan soal isnad. Namun apabila sudah terjadi fitnah, mereka baru bilang: "Sebutkan tokoh-tokohmu kepada kami". Lalu diperlihatkan kepada mereka ahlus sunnah yang kemudian digunakanlah haditsnya. Dan diperlihatkan pula ahli bid'ah tetapi tidak dipergunakan hadits mereka." 

Bersumber dari Sulaiman bin Musa; dia berkata: "Aku bertemu Thawus lantas aku katakan: "Si Fulan menceritakan hadits ini kepadaku". Kata Thawus: "Apabila kawanmu itu cermat, jujur dan bisa di-percaya, maka pergunakanlah haditsnya." 

Bersumber dari Sulaiman bin Musa; dia berkata: "Aku bercerita ke-pada Thawus: "Sesungguhnya Fulan itu menceritakan hadits ini dan hadits ini kepadaku". Lalu kata Thawus: "Apabila kawanmu itu orang yang cermat, jujur dan terpercaya, maka pergunakan atau ambillah hadits daripadanya". 

Bersumber dari Ibnu Abu Zinad, dari ayahnya; dia mengatakan: "Di Madinah, aku mendapati seratus orang yang semuanya bisa dipercaya, sehingga hadits mereka bisa digunakan". Ada yang bilang: "Belum tentu". 

Diceritakan oleh Abu Bakar bin Khallad Al Bahili; dia berkata: "Aku mendengar Sufyan bin Uyainah yang mendapat cerita dari Mis'ar mengatakan: "Aku mendengar Sa'ad bin Ibrahim pernah mengatakan: "Hanya orang-orang yang bisa dipercaya sajalah yang boleh menceritakan hadits yang berasal dari Rasulallah sholallahu alaihi wasalam." 

Diceritakan oleh Muhammad bin Abdullah bin Quhaadza dari ahli Marwa; dia berkata: "Aku mendengar Abdan bin Utsman pernah mengatakan: "Aku mendengar Abdullah bin Al Mubarak pernah mengatakan: "Isnad itu dari agama. Sekiranya tidak ada isnad, niscaya setiap orang akan berbicara semaunya sendiri saja." 

Kata Muhammad bin Abdullah: "Abbas bin Abu Rizmah bercerita kepadaku: "Aku mendengar Abdullah pernah mengatakan: "Antara kami dan kaum ada qamain (kaki-laki) yakni isnad." 

Lebih lanjut Muhammad mengatakan: "Aku mendengar Abu Ishak bin Ibrahim bin Isa Ath Thalaqani berkata: "Aku pernah berkata kepada Abdullah bin Al Mubarak: "Wahai Abu Abdurrahman. Ada se-buah hadits yang berbunyi:

 "Sesungguhnya kebaikan di atas kebaikan ialah kalau kamu mau sembahyang untuk semua orang tuamu bersama sembahyangmu, dan kamu berpuasa untuk mereka berdua bersama puasamu".

Abdullah bin Al Mubarak bertanya: "Wahai Abu Ishak, dari mana kamu dapatkan hadits itu?" Aku katakan kepadanya: "Ini dari haditsnya Syihab bin Khirasy". 
Abdullah bin Al Mubarak bertanya: "Terpercayakah dia? Dari siapa dia dapatkan hadits itu?" Aku jawab: "Dari Al Hajjaj bin Dinar".

Abdullah bin Al Mubarak bertanya lagi: "Bisa dipercayakah Al Hajjaj bin Dinar itu? Dari siapakah dia memperolehnya? Aku jawab: "Rasulallah sholallahu alaihi wasalam lah yang bersabda".

Lalu Abdullah bin Al Mubarak berkata: "Wahai Abu Ishak, sesungguhnya antara Al Hajjaj bin Dinar dan nabi sholallahu alaihi wasalam itu terdapat benteng tanah yang sangat luas sekali. Jadi hadits tersebut tidak berhujjah (tidak punya argumentasi) sama sekali. Mengenai berbuat baik terhadap kedua orang tua dengan bersedekah memang tidak ada perselisihan di antara para ulama." 

Muhammad mengatakan: "Aku mendengar Ali bin Syaqiq pernah mengatakan: "Aku mendengar Abdullah bin Al Mubarak pernah mengatakan di depan khalayak manusia: "Tinggalkanlah haditsnya Umar bin Tsabit, karena dia pernah mencaci maki para ulama salaf (kuno)". 

Diceritakan oleh Abu Aqil; "Suatu hari aku sedang duduk-duduk bersama Al Qasim bin Ubaidillah dan Yahya bin Sa'id. Yahya bilang pada Qasim: "Wahai Abu Muhammad. Sesungguhnya orang sepertimu itu jelek sekali. Terlampau berlebihan jika sesuatu yang menyangkut tentang urusan agama ditanyakan kepadamu. Kamu tidak memiliki pengetahuan mengenainya, atau punya namun sangat sempit sekali."  Qasim berkata kepada Yahya: "Mengapa begitu?" Yahya menjawab: "Karena sesungguhnya kamu adalah putera dua orang imam yang masyhur; yaitu Abu Bakar dan Umar". Lalu Qasim balik berkata kepada Yahya: "Kalau dilihat dari segi itu memang benar katamu". Sesudah itu Yahya hanya dia saja dan tidak lagi menanggapinya. 
Hadits yang diceritakan oleh Bisyru bin Al Hakam yang juga bersumber dari Ibnu Aqil, senada dengan hadits di atas. 

Diceritakan oleh Amr bin Ali Abu Hafsh; dia berkata: "Aku bertanya kepada Sufyan Tsauri, kepada Syu'bah, kepada Malik dan kepada Ibnu Uyainah mengenai seorang lelaki yang tidak tegar dalam hadits, di mana lelaki itu datang kepadaku dan meminta hadits kepadaku". Mereka menyarankan kepadaku: "Beritahukan saja kepadanya bahwa dia bukanlah orang yang tegar atau jujur." 

Diceritakan oleh Ubaidillah bin Sa'id; dia berkata: "Aku mendengar Nadher pernah mengatakan: "Ibnu Aun pernah ditanya haditsnya seseorang bernama Syaher, di mana pada waktu itu Ibnu Aun sedang berada di dekat pintu. Ibnu Aun menjawab: "Sesungguhnya Syaher harus kita telanjangi sifat-sifatnya,". 

Kata Imam Muslim r.a.: "Orang-orang memang banyak yang membicarakan sifat Syaher
Diceritakan oleh Syababah; dia berkata: "Syu'bah pernah mengatakan: "Saya pernah ketemu dengan Syaher, dan aku biarkan saja dia". 

Diceritakan oleh Ali bin Husain bin Waqid; dia berkata: "Abdullah bin Al Mubarak pernah mengatakan: "Aku bilang kepada Sufyan Tsauri: "Sesungguhnya Abbad bin Katsir adalah orang yang sudah Anda kenal tingkah lakunya. Jika berbicara selalu muluk-muluk. Menurut Anda, bolehkah aku katakan kepada orang banyak "Jangan pedulikan dia?" Sufyan menjawab: "Tentu saja boleh". Semenjak saat itu aku yang biasanya dalam setiap majlis yang menyinggung tentang Abbad selalu memujinya, sudah berani mengatakan: "Jangan pedulikan dia!" 

Abdullah bin Al Mubarak pernah mengatakan: "Aku bertandang ke rumah Syu'bah yang pada waktu itu Abbad kebetulan berada di situ. Lalu kata Syu'bah: "Kenalkan ini adalah Abbad bin Katsir. Hati-hatilah kamu terhadapnya." 

Diceritakan oleh Al Fadhel bin Sahel; dia berkata: "Aku bertanya kepada Mu'alla Ar Razi tentang Muhammad bin Sa'id yang biasa meriwayatkan hadits kepada Abbad. Dia lalu memberitahukan kepadaku mengenai Isa bin Yunus; katanya: "Aku berada di dekat pintunya dan pada waktu itu Sufyan juga berada di sampingnya. Ketika keluar aku lalu bertanya kepadanya mengenai orang tadi, dan jawab Sufyan: "Sesungguhnya dia adalah seorang pendusta.

Bersumber dari Muhammad bin Yahya bin Sa'id Al Qaththan, dari ayahnya; dia berkata: "Di antara orang-orang yang shaleh, mereka itu adalah yang paling berdusta dalam hadits." 

Kata imam Muslim agak lunak: "Sebenarnya mereka itu tidak sengaja berdusta, melainkan hanya kekhilafan mulutnya saja." 

Diceritakan oleh Khalifah bin Musa; dia berkata: "Aku menemui Ghalib bin Ubaidillah: Dia lalu mendikte aku: "Makhul bercerita kepadaku, Makhul bercerita kepadaku". Sejenak dia sepertinya ragu, lalu dia berdiri. Setelah aku lihat catatan yang ada di depanku, ternyata yang tertera di situ ialah kalimat: "Aban bercerita kepadaku dari Anas, dan Aban dari fulan". Seketika itulah aku berdiri dan meninggalkannya.

Hasan bin Ali Alhulwani mengatakan: "Di dalam kitabnya Affan aku melihat haditsnya Hisyam dan haditsnya Umar bin Abdul Aziz". Kata Hisyam: "Seorang lelaki bernama Yahya bin fulan bercerita ke-padaku, dari Muhammad bin Ka'ab". Lalu aku katakan kepada Affan: "Sesungguhnya mereka mengatakan: "Hisyam mendengarnya dari Muhammad bin Ka'ab". 

Diceritakan oleh Muhammad bin Abdullah bin Qahzadza; dia berkata: "Aku mendengar Abdullah bin Utsman bin Jabalah mengatakan: "Aku bertanya kepada Abdullah bin Al Mubarak: "Siapakah orang yang mempunyai haditsnya Abdullah bin Umar yang kamu riwayatkan yang berbunyi: 'Hari raya fitri itu adalah hari di mana banyak hal menjadi diperbolehkan?" Abdullah bin Al Mubarak menjawab: "Yaitu Sulaiman Al Hajjaj". 

Ibnu Qahzadza selanjutnya mengatakan: "Abdullah bin Al Mubarrak pernah bilang: "Aku melihat Rauha bin Ghathif. Dan entah mengapa tiba-tiba aku ingin duduk bersamanya dalam satu majlis. Aku merasa malu sekali ketika kawan-kawanku melihat aku duduk bersamanya, karena aku sudah terlanjur akan omongannya." 

Diceritakan oleh Ibnu Qahzadza; dia berkata: "Aku mendengar Wahb pernah mengatakan tentang Sufyan dan tentang Ibnu Al Mubarak; katanya: "Mereka adalah orang-orang yang jujur mulut atau lisan-nya, hanya saja mereka mengambil dari orang-orang yang terpercaya juga dari orang-orang yang masih diragukan kejujurannya." 

Diceritakan oleh Qutaibah bin Sa'id bersumber dari Asy Sya'bi; dia mengatakan: "Aku pernah mendatangkan cerita dari Al Harits Al A'war Al Hamdani, dan ternyata dia adalah seorang pendusta.

Diceritakan oleh Abu Amir Abdullah bin Barrad Al Asy'ari bersumber dari Al Mughirah; dia mengatakan: "Aku mendengar Asy Sya'bi pernah mengatakan: "Al Harits Al A'war bercerita kepadaku, dan dia ternyata adalah salah seorang pendusta.

Diceritakan oleh Qutaibah bin Sa'id bersumber dari Ibrahim yang mengatakan: "Kata Alqamah: "Selama dua tahun aku membaca Al Qur'an". Kata Al Harits: "Al Qur'an itu sepele, dan wahyu malah melebihi". 

Diceritakan oleh Hajjaj bin Sya'ir bersumber dari Ibrahim; sesungguhnya Al Harits berkata: "Aku mempelajari Al Qur'an dalam tiga tahun, dan wahyu selama dua tahun". Atau katanya: "Wahyu selama tiga tahun, sedangkan Al Qur'an selama dua tahun." 

Diceritakan oleh Hajjaj bersumber dari Ibrahim; dia mengatakan: "Sesungguhnya Al Harits itu orang yang dicurigai kejujurannya." 

Diceritakan oleh Qutaibah bin Sa'id bersumber dari Hamzah Azayyat; dia berkata: "Murrat Al Hamdani mendengar sesuatu dari Al Harits. Lalu kata Murrat kepada Al Harits: "Duduklah di dekat pintu itu". Sejenak Murrat lalu masuk ke dalam untuk mengambil pedangnya. Merasa ada yang tidak beres yang akan menimpanya, bergegas Al Harits lalu pergi." 
----
Diceritakan oleh Ubaidillah bin Sa'id bersumber dari Ibnu Aun; dia mengatakan: "Ibrahim pernah berpesan kepadaku: "Hati-hati kamu terhadap Mughirah bin Sa'id dan Abu Abdurrahman, karena keduanya adalah pendusta." 

Diceritakan oleh Ashim; dia berkata: "Aku menemui Abu Abdurrahman As Sulaiman karena sudah merasa sangat kangen sekali. Dalam kesempatan itu dia mengatakan kepadaku: "Kamu jangan berkumpul dengan para tukang cerita, kecuali Abu Al Ahwash. Dan juga hati-hatilah kamu terhadap Syaqiq. Konon khabarnya dia itu menganut pendapatnya kaum Khawarij, dan bukan kelompoknya Abu Wail". 

Diceritakan oleh Abu Ghassan alias Muhammad bin Amer Ar Razi; dia mengatakan: "Aku mendengar Jarir pernah mengatakan: "Aku sering bertemu dengan Jabir bin Yazid Al Ju'fi. Tetapi aku enggan menulis hadits darinya. Sebab, dia percaya pada ideologi kaum Raj'iyyah". 

Diceritakan oleh Sufyan; dia berkata: "Banyak orang yang berpaling menjauhi Jabir sebelum dia sempat menyampaikan apa yang hendak dia sampaikan. Kalaupun hal itu sampai terlanjur terjadi, maka mereka sama tidak percaya pada omongannya. Lalu mereka bergegas meninggalkannya". Ketika ditanya: "Apa yang disampaikan oleh Jabir?" Sufyan menjawab: "Yaitu kepercayaannya pada ideologi golongan Raj'iyah". 

Diceritakan oleh Qabishah dan saudaranya; keduanya mendengar Al Jarrah bin Malij pernah mengatakan: "Aku mendengar Jabir pernah mengatakan: "Aku memiliki sebanyak tujuh puluh ribu hadits berasal dari Abu Ja'far dan kesemuanya dari nabi s.a.w." 

Diceritakan oleh Ahmad bin Yunus; dia mengatakan: "Aku mendengar Zubair pernah mengatakan: "Aku mendengar Jabir pernah mengatakan. Sesungguhnya aku mempunyai Hadits sebanyak lima puluh ribu buah. Satupun diantaranya belum pernah aku ceritakan kepada orang lain". Pada suatu hari dia dapat menceritakan suatu hadits. Maka katanya: "Ini termasuk yang lima puluh ribu itu". 

Di ceritakan oleh Ibrahim bin Khalid Al Yasykuri, dia berkata: "Aku mendengar Abu Walid pernah mengatakan: "Aku mendengar Salim bin Abu Muthi' pernah mengatakan: "Aku mendengar Jabir Al Ju'fi pernah mengatakan: "Aku mempunyai sebanyak lima puluh ribu hadits yang berasal dari Nabi saw.

Diceritakan oleh Sufyan, dia berkata: "Aku mendengar ada seorang laki-laki bertanya kepada Jabir mengenai firman Allah yang berbunyi: "Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya", Jawab Jabir: "Tidak ada tafsirannya ayat tersebut". Aku kira dia berdusta. Maka ketika pertanyaan itu diajukan kepadaku, aku jawab: "Bahwasanya golongan Raj'iyyah berkata bahwa sesungguhnya Ali itu berada di atas awan. Dan saudara-saudara Yusuf tidak mau keluar begitu saja, sebelum ada yang memanggil dari lagit, yakni Ali, yang menyuruh mereka untuk keluar bersama dengan si fulan". 

Diceritakan oleh Salamah dari Sufyan; dia mengatakan: "Aku pernah mendengar Jabir bercerita bahwa dia katanya sudah menceritakan sekitar tiga puluh ribuan hadits. Namun aku sama sekali tidak berhasrat menyebut-nyebutkannya sedikit pun daripadanya".  ........ 

Posting Komentar