02. Kitab Thaharoh - Bab 20. Larangan berlebihan menggunakan air (Hadits no. 68, 69)

۞  وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

 ... tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Al-An'am:141


ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Al-A'raf:55

Hadits 68

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ
سَمِعَ ابْنَهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الْأَبْيَضَ عَنْ يَمِينِ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا فَقَالَ أَيْ بُنَيَّ سَلْ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَتَعَوَّذْ بِهِ مِنْ النَّارِ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الطَّهُورِ وَالدُّعَاءِ

Abdullah bin Mughaffal pernah mendengar anaknya berdoa dengan mengucapkan: "Ya Allah, Sesungguhnya saya memohon kepadaMu istana putih di sisi kanan surga apabila saya memasukinya." Maka Abdullah bin Mughaffal berkata: "Wahai anakku, mintalah surga kepada Allah dan berlindunglah kepadaNya dari neraka, sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya akan ada suatu kaum dari umat ini yang berlebih-lebihan dalam hal bersuci dan berdoa." HR. Abu Dawud (96) , Ahmad (4/87)


Hadits 69

عَنْ أَبِي رَيْحَانَةَ عَنْ سَفِينَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ 

Abu Raihanah dari Safinah berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berwudlu hanya dengan air satu mud dan mandi dengan satu sha'."  HR. Muslim (326), At-Tirmidzi (56), Ibnu Majah (267), Ahmad (5/222)

Satu mud yaitu seukuran dua telapak tangan orang dewasa. Sedangkan satu sho’ seukuran dengan empat mud.
--------------------------------------------

Berikut ini beberapa contoh i’tida’ (Melampaui Batas dalam Berdoa) :

Jenis yang paling parah, yaitu berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنْ يَّدْعُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَنْ لَّا يَسْتَجِيْبُ لَهٗٓ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَاۤىِٕهِمْ غٰفِلُوْنَ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru tuhan-tuhan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka. [al Ahqâf/46:5].

Memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hal-hal yang tidak diperbolehkan, seperti memohon pertolongan untuk melakukan perbuatan haram dan mengerjakan kemaksiatan.

Memohon kepada Allah sesuatu yang tidak dikabulkan oleh Allah karena bertentangan dengan sifat hikmah-Nya. 

Atau meminta sesuatu yang mestinya ditempuh dengan sebab-sebab, namun ia enggan untuk melaksanakannya. Misal, permintaan agar dapat memperoleh anak tanpa menikah, menghilangkan sifat-sifat manusia, yang membutuhkan makanan dan minuman serta oksigen, ingin tahu ilmu gaib, dan sebagainya.

Memohon derajat dan martabat yang tidak layak, sementara sunnatullah tidak memungkinkannya dapat meraihnya. Seperti meminta menjadi malaikat, menjadi nabi dan rasul. Atau memohon supaya menjadi muda kembali setelah memasuki usia tua.

Berdoa kepada Allah tidak dengan tadharru’.

Berdoa yang mengandung laknat bagi kaum mukminin.

Sebagian ulama Salaf menjelaskan makna orang-orang yang melampaui batas pada ayat di atas, bahwasanya mereka ialah orang-orang yang melaknat kaum mukminin pada kondisi yang tidak diperbolehkan, seraya berseru: “Ya Allah, hinakan mereka. Ya Allah, laknatlah mereka”. (Ma’âlimut-Tanzîl, 2/166.)

Berdoa dengan meninggikan dan mengeraskan suara sehingga bertentangan dengan etika, adab dan sopan santun.

Pelajaran dari ayat diatas

Kewajiban berdoa hanya kepada Allah, karena berdoa termasuk ibadah.
Penjelasan mengenai adab berdoa, yaitu dengan bertadharru’.
Adab dalam berdoa, yaitu melantunkannya dengan suara lirih.
Larangan berbuat i’tida` (melampui batas) dalam berdoa.
I’tida` dapat mempengaruhi doa seseorang tidak dikabulkan.
Penetapan sifat mahabbah

(https://almanhaj.or.id/46442-tidak-melampaui-batas-dalam-berdoa.html)

Posting Komentar