Hadits no. 0005 - Cabang Cabang Keimanan

Miskatul Mashabih Kitab Iman - Fasal pertama Hadits ke-5 (4) Muttafaqun alihi

 [4] -5 (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu. katanya: Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

 الْإِيمَانُ بضع وَسَبْعُونَ شُعْبَة فأفضلها: قَول لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ 

Keimanan itu ada tujuhpuluh lebih cabang-cabangnya yang paling afdhal adalah ucapan  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ  

وَأَدْنَاهَا: إِمَاطَةُ الْأَذَى عَن الطَّرِيق والحياة شُعْبَة من الايمان

dan yang paling kecil adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu termasuk bagian keimanan.

***************
Penjelasan hadis: 

Pengertian iman secara istilah dikenal oleh para ulama dengan “lima nun”.

اليقين بالجنا ن

Al-Yaqinu bil jinan
(Diyakini dalam hati)

القول باللسا ن

Alqoulu bil lisan
(Diucapkan dengan lisan)

العمل بالأركا ن

Al’Amalu bil arkan
(Dilakukan dengan perbuatan)

يزيد بطاعة الرحما ن

Yazidu bito’atir rohman
(Iman bertambah karena taat kepada ar-Rahman)

ينقص بالعصيا ن

Yanqusu bil ishyan
(Iman berkurang karena kemaksiatan)

Mukadimah dan Kitab Al-Iman – Al-Jam’u Baina As-Sahihain  Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 17 Syawwal 1439 H / 01 Juli 2018 M.

Iman adalah perkataan, perbuatan, dan keyakinan, yang memiliki cabang dan tingkatan. Sifat-sifat terpuji semuanya termasuk dalam iman. Dari akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bahwa iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Seorang mukmin meningkatkan imannya dengan melakukan ketaatan dan menjauhi hal-hal yang haram, dan sejauh mana ia lalai dalam ketaatan dan melakukan hal-hal yang haram, imannya melemah. 

Dalam hadis ini, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa iman yang sempurna memiliki tingkatan, dan mencakup amal, perbuatan, dan jenis-jenis kebaikan, yang jumlahnya mencapai tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih bagian. 

Al-Bid’ adalah menunjukkan bilangan dari tiga sampai sembilan. Yang dimaksud adalah bahwa iman memiliki banyak sifat, dan terdiri dari banyak amal, di antaranya adalah amal hati: seperti tauhid, tawakal, harapan, dan ketakutan. Di antaranya adalah amal lisan: seperti dua kalimat syahadat, dzikir, doa, dan membaca Al-Qur'an, dan lain-lain. Di antaranya adalah amal anggota badan: seperti shalat, puasa, menolong orang yang membutuhkan, dan menolong orang yang teraniaya. 

Barangsiapa melakukan suatu amal dari amal saleh, maka ia telah menyempurnakan sebagian dari imannya. Dan beliau mengabarkan bahwa tingkatan iman yang paling tinggi dan paling utama, bahkan pokok iman adalah ucapan: "Laa ilaaha illallah"; yaitu mentauhidkan Allah عز وجل, mengakui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Esa yang mengatur alam semesta, yang berhak disembah hanya kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya, dan beramal sesuai dengan konsekuensi iman tersebut adalah pokok iman. 

Dan kalimat agung ini "Laa ilaaha illallah" adalah kalimat takwa, ia adalah tali yang kokoh, ia adalah pembeda antara kekufuran dan Islam, ia adalah yang dijadikan Ibrahim عليه السلام sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali, ia adalah kalimat yang dengannya bumi dan langit berdiri, dan semua makhluk diciptakan untuknya; ia adalah asal mula penciptaan dan perintah, pahala dan hukuman, dan ia adalah hak Allah atas semua hamba, dan yang dimaksud bukanlah mengucapkannya dengan lisan disertai kebodohan akan maknanya, atau dengan kemunafikan, tetapi yang dimaksud adalah mengucapkannya dengan lisan dan membenarkannya dengan hati, mencintainya dan mencintai ahlinya, dan membenci apa yang menyelisihinya dan memusuhinya. 

Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan bahwa amal iman yang paling sedikit adalah menyingkirkan gangguan dan menjauhkannya dari jalan manusia. Yang dimaksud dengan gangguan adalah segala sesuatu yang menyakitkan; dari batu, duri, atau lainnya. 

Dan beliau ﷺ juga mengabarkan bahwa rasa malu adalah suatu tingkatan, amal, dan sifat dari sifat-sifat iman, dan hakikat rasa malu adalah akhlak yang mendorong untuk meninggalkan hal-hal yang buruk, dan mencegah dari kelalaian terhadap hak pemilik hak. 

Yang dimaksud dengannya adalah rasa malu kepada Allah تعالى: jangan sampai Dia melihatmu di mana Dia melarangmu, dan jangan sampai Dia kehilanganmu di mana Dia memerintahkanmu, dan dengan pengertian ini, ia adalah pendorong yang paling kuat untuk kebaikan, dan penangkal yang paling besar dari keburukan. 

Dan beliau menyebutkannya secara khusus di sini; karena ia adalah perkara akhlak yang mungkin akal lupa bahwa ia termasuk dari iman; maka ia menunjukkan bahwa akhlak yang baik juga termasuk dari amal iman dan tingkatan-tingkatannya, maka hadis ini menggabungkan antara keyakinan, amal, dan akhlak, dan bahwa semuanya adalah penyempurna iman. 

Dan meskipun hadis ini merangkum cabang-cabang iman, namun ia dijelaskan dan dirinci dalam Sunnah Nabawiyah. Dan pembatasan jumlah tidak berarti hanya terbatas pada enam puluh atau tujuh puluh lebih, tetapi ia menunjukkan banyaknya amal iman. 

Dalam hadis ini: penjelasan tentang pentingnya akhlak rasa malu. (Sumber penjelasan: Ad-Durar As-Saniyyah)


شرح الحديث : الإيمانُ قولٌ وعمَلٌ واعتقادٌ، وهو شُعَبٌ ودَرَجاتٌ، والخِصالُ الحَميدةُ كلُّها تَندَرِجُ تَحتَ الإيمانِ، ومِن عَقيدةِ أهلِ السُّنَّةِ والجَماعةِ: أنَّ الإيمانَ يَزيدُ بالطَّاعةِ ويَنقُصُ بالمعصيةِ؛ فالمؤمِنُ يَزيدُ إيمانُه بفِعلِ الطَّاعاتِ واجتنابِ المحَرَّماتِ، وبقَدرِ تَفريطِه في الطَّاعاتِ وارتكابِه للمُحَرَّماتِ يَضعُفُ إيمانُه. وفي هذا الحَديثِ يُخبِرُ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أنَّ الإيمانَ الكاملَ دَرَجاتٌ، ويَشتَمِلُ على أعمالٍ وأفعالٍ وأصنافٍ منَ الصَّالحاتِ، يَصِلُ عدَدُها إلى بِضعٍ وسَبعين -أو بِضعٍ وسِتِّين- جُزءًا، والبِضعُ: يَدُلُّ على العددِ من ثَلاثةٍ إلى تِسعةٍ، والمقصودُ: أنَّ الإيمانَ ذُو خِصالٍ مُتعدِّدةٍ، ويتَكوَّنُ من أعمالٍ كَثيرةٍ، منها أعمالُ القُلوبِ: كالتَّوحيدِ، والتَّوكُّلِ، والرَّجاءِ، والخَوفِ، ومنها أعمالُ اللِّسانِ: كالشَّهادتَينِ، والذِّكرِ، والدُّعاءِ، وتِلاوةِ القُرآنِ، وغيرِها، ومنها أعمالُ الجوارحِ: كالصَّلاةِ، والصَّومِ، وإغاثةِ الملهوفِ، ونَصرِ المظلومِ. فمَن أتى بعَملٍ من الصَّالحاتِ فقَد أكمَلَ جُزءًا من إيمانِهِ، وأخبر أنَّ أعلى دَرَجاتِ الإيمانِ وأفضَلَها، بل وأصلُ الإيمانِ هو قولُ: «لا إلَهَ إلَّا اللهُ»؛ فتَوحيدُ اللهِ عزَّ وجلَّ، والاعترافُ بكَونِه الإلهَ الواحدَ المُدبِّرَ للكونِ المستحِقَّ للعِبادةِ وَحدَه دُونَ ما سِواه، والعملُ بِمُقتَضى ذلك الإيمانِ هو أصلُ الإيمانِ، وهذه الكَلِمةُ العَظيمةُ «لا إلَهَ إلَّا اللهُ» هي كَلمةُ التَّقوى، وهي العُروَةُ الوُثقى، وهي الفارِقَةُ بينَ الكُفرِ والإسلامِ، وهي التي جَعَلَها إبراهيمُ عليه السَّلامُ كَلِمةً باقيةً في عَقِبِهِ؛ لعلَّهم يَرجِعون، وهي كَلِمةٌ قامَت بها الأرضُ والسَّمواتُ، وخُلِقَت لأجلِها جَميعُ المخلوقاتِ؛ فهي مَنشَأُ الخَلقِ والأمرِ، والثَّوابِ والعِقابِ، وهي حَقُّ اللهِ على جَميعِ العِبادِ، وليس المرادُ قولَها باللِّسانِ معَ الجهلِ بمَعناها، أو النِّفاقِ بها، بلِ المرادُ قولُها باللِّسانِ وتَصديقُها بالقلبِ، ومَحبَّتُها ومَحبَّةُ أهلِها، وبُغضُ ما خالَفَها ومُعاداتُه. ثُمَّ بيَّنَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أنَّ أقلَّ أعمالِ الإيمانِ هو تَنحيةُ الأذَى وإبعادُه عَن طَريقِ النَّاسِ، والمرادُ بالأذى: كلُّ ما يُؤذي؛ من حَجَرٍ، أو شَوكٍ، أو غَيرِه. وأخبر صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أيضًا أنَّ الحياءَ دَرَجةٌ وعَمَلٌ وخَصلةٌ من خِصالِ الإيمانِ، وحَقيقةُ الحياءِ: خُلقٌ يَبعَثُ على تَركِ القَبيحِ، ويَمنَعُ من التَّقصيرِ في حَقِّ ذي الحقِّ، والمرادُ به الحَياءُ منَ اللهِ تَعالَى: ألَّا يَراك حيثُ نَهاك، وألَّا يَفقِدَك حيثُ أمَرَك، وهو بهذا المعنى أقوى باعثٍ على الخيرِ، وأعظمُ رادعٍ عنِ الشَّرِّ. وخَصَّه بالذِّكرِ هنا؛ لكَونِه أمرًا خُلُقيًّا ربَّما يَذهُلُ العَقلُ عَن كَونِه من الإيمانِ؛ فدَلَّ على أنَّ الأخلاقَ الحَسنةَ أيضًا من أعمالِ الإيمانِ ودَرَجاتِهِ، فجَمَعَ هذا الحديثُ بين الاعتِقادِ والعَمَلِ والأخلاقِ، وأنَّها كلَّها مُكمِّلاتٌ للإيمانِ، وإن كان الحديثُ أجمَلَ هنا شُعَبَ الإيمانِ فإنَّها مُوضَّحةٌ ومُفصَّلةٌ في السُّنَّةِ النَّبويَّةِ. وحَصرُ العَددِ لا يَعني الاقتِصارَ على البِضعِ والسِّتِّين أو البِضعِ والسَّبعين، ولكنَّه يَدُلُّ على كَثرةِ أعمالِ الإيمانِ. وفي الحَديثِ: بَيانُ أهمِّيةِ خُلُقِ الحَياءِ.

(مصدر الشرح: الدرر السنية)

Posting Komentar