Miskatul Mashabih Kitab Iman - Fasal pertama Hadits ke-4 (3) Muttafaqun alihi
4 -[3] (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhu. katanya: "Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Islam didirikan di atas lima pondasi: Bersaksi bahwa tidak ada illah yang haq selain Allah dan Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya,
وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
mendirikan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan haji, dan berpuasa Ramadhan".
***************
Penjelasan Hadits:
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengumpamakan Islam sebagai bangunan yang kokoh, dan mengumpamakan lima rukunnya sebagai fondasi yang kuat dan kokoh yang menopang bangunan tersebut, karena bangunan itu tidak akan berdiri tanpa fondasi tersebut. Dan sisa dari sifat-sifat Islam adalah sebagai pelengkap bangunan.
Rukun pertama: dari rukun-rukun ini adalah: Dua kalimat syahadat; Syahadat bahwa tidak ada Tuhan yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan keduanya adalah satu rukun; Karena keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Makna dari dua kalimat syahadat adalah: Seorang hamba mengucapkan dua kalimat syahadat dengan mengakui dan meyakini keesaan Allah dan bahwa Dia berhak disembah satu-satunya tanpa ada sekutu bagi-Nya, dan kerasulan Muhammad bin Abdullah, membenarkannya di dalam hati, meyakini maknanya, dan mengamalkannya sesuai dengan tuntutannya; Inilah syahadat yang bermanfaat bagi pemiliknya di akhirat, sehingga dia akan meraih surga, dan selamat dari neraka.
Rukun kedua: Mendirikan shalat, yaitu: menjaga pelaksanaan shalat lima waktu fardhu dalam sehari semalam, yaitu: "Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya" pada waktunya, dengan syarat, rukun, dan kewajibannya.
Rukun ketiga: Mengeluarkan zakat fardhu, yaitu ibadah harta yang wajib ditunaikan pada setiap harta yang mencapai jumlah dan batas syar'i, dan telah berlalu satu haul -yaitu tahun qamariyah atau hijriyah- maka dikeluarkan seperempat dari sepersepuluh, dan juga termasuk di dalamnya zakat hewan ternak, zakat tanaman dan buah-buahan, harta dagang, dan zakat rikaz, yaitu harta terpendam yang dikeluarkan dari bumi, dan dikatakan: tambang, sesuai dengan nisabnya, dan waktu penzakatan. Dalam menunaikan zakat dengan cara yang benar kepada yang berhak menerimanya, terdapat penambahan keberkahan pada harta, dan pahala yang besar di akhirat.
Dan kikir serta menahan zakat dari yang berhak menerimanya memiliki akibat yang buruk di dunia dan akhirat, yang telah dijelaskan oleh banyak nash dalam Al-Qur'an dan Sunnah, dan zakat diberikan kepada yang berhak menerimanya yang disebutkan dalam firman Allah Ta'ala: {Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana} [At-Taubah: 60].
Rukun keempat: Haji, yaitu dengan mengunjungi tempat-tempat suci untuk melaksanakan manasik, sebagai ibadah kepada Allah 'Azza wa Jalla, sekali seumur hidup, dan wajib dipenuhi: kemampuan dan kesanggupan finansial dan fisik.
Rukun kelima -yaitu rukun terakhir-: Puasa Ramadhan, yaitu ibadah fisik, dan puasa berarti: menahan diri, dengan niat ibadah, dari makan, minum, dan menggauli wanita, dan semua yang membatalkan puasa lainnya, dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Dalam hadits ini: terdapat petunjuk bahwa rukun Islam terbagi menjadi empat bagian, di antaranya: yang merupakan amalan lisan dan hati, yaitu dua kalimat syahadat; Karena di dalamnya harus ada ucapan lisan, dan pembenaran hati, di antaranya: yang merupakan amalan fisik, yaitu shalat dan puasa, di antaranya: yang merupakan amalan harta murni, yaitu zakat, di antaranya: yang merupakan amalan fisik dan harta, yaitu haji. (Sumber penjelasan: Ad-Durar As-Saniyyah)
شرح الحديث : في هذا الحَديثِ الجَليلِ شَبَّه النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ الإسلامَ ببِناءٍ مُحكَمٍ، وشبَّه أركانَه الخَمسةَ بقواعدَ ثابتةٍ مُحكَمةٍ حاملةٍ لذلك البُنيانِ، فلا يثبُتُ البنيانُ بدُونِها، وبقيَّةُ خِصالِ الإسلامِ كتتمَّةِ البُنيانِ، وأوَّلُ هذه الأركانِ: الشَّهادتانِ؛ شَهادةُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وأنَّ مُحمَّدًا رسولُ اللهِ، وهُما رُكنٌ واحدٌ؛ لكَونِهما مُتلازمتَينِ لا تنفَكُّ إحداهُما عن الأخرى. ومعنى الشَّهادتينِ: أنْ يَنطِقَ العبدُ بهما مُعترفًا ومُقِرًّا بوَحدانيَّةِ اللهِ واستحقاقِه للعِبادةِ وحْدَه دونَ ما سِواهِ، وبرِسالةِ مُحمَّدِ بنِ عبدِ اللهِ، مُصدِّقًا بقلبِه بهما، مُعتقدًا لمعناهما، عامِلًا بمقتضاهُما؛ هذه هي الشَّهادةُ الَّتي تنفعُ صاحبَها في الدَّارِ الآخِرةِ، فيفوزُ بالجنَّةِ، وينجو مِن النَّارِ. والرُّكنُ الثَّاني: هو إقامةُ الصَّلاةِ، ويعني: المحافظةَ على أداءِ الصلَواتِ الخَمسِ المَفروضاتِ في اليومِ واللَّيلةِ، وهي: «الفَجْر، والظُّهر، والعَصْر، والمغرِب، والعِشاء» في أوقاتِها، بشُروطِها وأركانِها وواجباتِها. والرُّكنُ الثَّالثُ: إخراجُ الزَّكاةِ المفروضةِ، وهي عِبادةٌ ماليَّةٌ واجِبةٌ في كُلِّ مالٍ بلَغَ المِقدارَ والحدَّ الشرعيَّ، وحالَ عليه الحَوْلُ -وهو العامُ القمَريُّ أو الهِجريُّ- فيُخرَجُ منه رُبُعُ العُشرِ، وأيضًا يَدخُلُ فيها زَكاةُ الأنعامِ والماشيةِ، وزَكاةُ الزُّروعِ والثِّمارِ، وعُروضِ التِّجارةِ، وزكاةُ الرِّكازِ، وهو الكَنزُ المدفونُ الَّذي يُستخرَجُ مِنَ الأرضِ، وقيل: المعادِنُ، بحَسَبِ أنْصابِها، ووقتِ تزكيتِها. وفي إيتاءِ الزَّكاةِ على وَجهِها لِمُستحِقِّيها زِيادةُ بَرَكةٍ في المالِ، وجَزيلُ الثَّوابِ في الآخرةِ. وللبُخلِ بها ومَنعِها مِن مُستحقِّيها عواقبُ وخيمةٌ في الدُّنيا والآخرةِ، بيَّنَتْها نُصوصٌ كثيرةٌ في القُرآنِ والسُّنةِ، وهي تُصرَفُ لِمُستحقِّيها المذكورينَ في قولِه تعالى: {إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ} [التوبة: 60] .والرُّكنُ الرَّابع: الحجُّ، ويكونُ بقَصدِ المشاعرِ المقدَّسةِ لإقامةِ المناسِكِ، تعبُّدًا لله عزَّ وجلَّ، مرَّةً واحدةً في العُمُرِ، ويَلزَمُ لوُجوبِه: القُدرةُ والاستطاعةُ الماليَّةُ والبَدنيَّةُ. والرُّكنُ الخامسُ -وهو آخِرُ الأركانِ-: صومُ رمضانَ، وهو عِبادةٌ بدنيَّةٌ، والصِّيامُ يعني: الإمساكَ، بنيَّةِ التعبُّدِ، عن الأكْلِ والشُّربِ وغِشيانِ النِّساءِ، وسائرِ المُفطِّراتِ، مِن طلوعِ الفَجرِ إلى غُروبِ الشَّمسِ.وفي الحديثِ: دَلالةٌ على أنَّ أركانَ الإسلام تنقسمُ إلى أربعة أقسامٍ، منها: ما هو عمَلٌ لِسانيٌّ قلبيٌّ، وهو الشَّهادتانِ؛ إذ لا بدَّ فيهما مِن نُطقِ اللِّسانِ، وتَصديقِ الجَنانِ، ومنها: ما هو عمَلٌ بدَنيٌّ، وهو الصَّلاةُ والصَّومُ، ومنها: ما هو ماليٌّ محضٌ، وهو الزَّكاةُ، ومنها: ما هو عمَلٌ بدَنيٌّ ماليٌّ، وهو الحَجُّ.
(مصدر الشرح: الدرر السنية)

Posting Komentar