001. 02 Muqodimah Bab 2. Ancaman keras berdusta atas nama nabi shalallahu alaihi waslam

2. Bab Ancaman keras berdusta atas nama nabi shalallahu alaihi waslam

صحيح مسلم ٢: و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَخْطُبُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ يَكْذِبْ عَلَيَّ يَلِجْ النَّارَ

Shahih Muslim 2: Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Ghundar dari Syu'bah (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al Mutsanna dan Ibnu Basysyar keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Manshur dari Rib'i bin Hirasy bahwasanya dia mendengar Ali berkhuthbah, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Janganlah kalian berdusta atas namaku, karena siapa yang berdusta atas namaku niscaya dia masuk neraka."

------------------
Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Al-'llmu, Bab ltsmu Man Kadzaba'Ala an-Nabi Shallallahu Alaihiwa Sallam, (nomor 106). oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-'llmu, Bab Maa laa'a Fii Ta'zhim alKadzib 'Ala Rasulillah Shallallahu Alaihi wa Sallam, (nomor 2660) dan dia juga mentakhrijnya dalam Kitab Al-Manaqib, Bab Manaaqibu'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu, sebuah hadits yang panjang, dan At-Tirmidzi mengatakannya bahwa ini adalah hadits hasan shahih gharib, (nomor 3715). Ditakhrij oleh Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah, Bab At-Taghliizh fii Ta'ammudi al-kadzib 'Ala Rasulillah Shallallnhu Alaihi wa Sallam, (nomor 31) dan dalam Tuhfah Al-Asyraf, (nomor 1.0087).

صحيح مسلم ٣: و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنِي ابْنَ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ إِنَّهُ لَيَمْنَعُنِي أَنْ أُحَدِّثَكُمْ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَعَمَّدَ عَلَيَّ كَذِبًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Shahih Muslim 3: Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ismail -yaitu Ibnu 'Ulayyah- dari Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas bin Malik bahwasanya dia berkata:

"Sesungguhnya sesuatu yang menghalangiku untuk menceritakan hadits yang banyak kepada kalian adalah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Barangsiapa yang sengaja melakukan kedustaan atas namaku, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari neraka.'"

---------------------
Hanya dikeluarkan oleh Muslim, Tuhfah Al-Asyraf, (nomor 1002)

صحيح مسلم ٤: و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْغُبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Shahih Muslim 4: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid al-Ghubari telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari neraka."

------------------
Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalarn Kitab Al-'llmu, Bab ltsmu Man Kadzaba 'Ala an-Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, hadits yang panjang (nomor 110), beliau juga mentakhrijnya dalam Kitab al-Adab, Bab Man Samma Bi Asmaa' ihi al-Anbiyaa dan juga merupakan hadits yang panjang, (nomor 6179), dan Tuhfah Al-Asyraf, (nomor 12852)

صحيح مسلم ٥: و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ رَبِيعَةَ قَالَ أَتَيْتُ الْمَسْجِدَ وَالْمُغِيرَةُ أَمِيرُ الْكُوفَةِ قَالَ فَقَالَ الْمُغِيرَةُ

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ و حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ قَيْسٍ الْأَسْدِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ رَبِيعَةَ الْأَسَدِيِّ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ

Shahih Muslim 5: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Bapakku telah menceritakan kepada kami Sa'id bin 'Ubaid telah menceritakan kepada kami Ali bin Rabi'ah dia berkata: Aku mendatangi masjid sedangkan Al Mughirah menjabat sebagai gubernur Kufah. Ia melanjutkan ceritanya: Lalu Al Mughirah berkata: "Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama seseorang, barangsiapa berdusta atas namaku secara sengaja maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari Neraka.'

Dan telah menceritakan kepadaku Ali bin Hujr as Sa'di telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Qais al Asdi dari Ali bin Rabi'ah Al Asdi dari Al Mughirah bin Syu'bah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan semisal hadits tersebut, hanya saja dia tidak menyebut: "Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama seseorang."

--------------------
Ditakhrij oleh Al-Bukhari dalam Kitab al-jana'iz, Bab: Maa Yukrahu Min an-Niyaahah 'Ala al-Mayyif, (nomor 1291), ditakhrij oleh Muslim dalam Kitab al-jana'iz, Bab: al-Mayyitu Yu'adzab bi Buka'i Ahlihi 'Alaih, (nomor 2154, 2155, dan 2156), ditakhrij pula oleh At-Tirmidzi dalam kitab al-jana'iz, Bab: Maa jaa'a fii Karahiyat an-Nauh, (nomor 1000) dan Tuhfah Al-Asyraf, (nomor 11520)


Pejelasan Hadits :

( فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ ) Maknanya adalah "Maka tinggallah" ada juga yang mengatakan "maka hendaklah ia menempati tempat tinggalnya di neraka. asal kata فَلْيَتَبَوَّأْ adalah مباءة الابل  tempat menderumnya onta. Begitu juga dengan  يَلِجْ النَّارَ Ada yang mengatakan bahwa itu adalah berita dengan bentuk perintah, maknanya adalah: bahwa ia berhak mendapatkan neraka, sehingga dirinya akan menempatinya.

Penetapan kaidahbahwa dusta itu mencakup suatu pemberitahuan yang menyelisihi sesuatu yang benar, baik secara sengaja maupun karena lupa.

Larangan keras berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebab dusta adalah suatu kejahatan dan dosa, hanya saja dosa tersebut tidak menyebabkan pada kekafiran, kecuali jika seseorang itu menghalalkan untuk berbuat dusta.

Sesungguhnya orang yang berdusta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam secara sengaja, meskipun satu hadits saja, maka ia telah berbuat kefasikan dan seluruh riwayat-riwayatnya tertolak, begitu juga dengan hujjah-hujjahnya. Jika ia bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, maka para ulama di antaranya adalah Ahmad bin Hanbal, Abu Bakar A1-Hamidi (gurunya Al-Bukhari dan sahabatnya Imam Asy Syafi'i), Abu Bakar Ash-Shairafy, para fuqaha sahabat-sahabat kami yang bermadzhab Asy-Syafi'i dan orang-orang terdahulu dari mereka dalam ushul dan furu', mengatakan, Taubahnya tidak akan mempengaruhi hal itu dan riwayatnya tertolak untuk selamanya, bahkan ia dicap sebagai orang yang memiliki cacat (dalam periwayatan).

Imam Nawawi mengatakan "Semua yang disebutkan oleh para ulama di atas adalah pendapat yang lemah dan menyelisihi kaidah-kaidah syariat, sedangkan menurut pendapat yang terbaik adalah memastikan taubatnya dengan benar dalam hal itu dan riwayat-riwayatnya setelah bertaubat bisa diterima, apabila taubatnya tersebut sesuai dengan syarat-syarat yang telah disepakati, seperti meninggalkan kemaksiatan, menyesali perbuatannya, dan bertekad untuk tidak mengulanginya, inilah hal-hal yang berlaku dalam syariat. Bahwasanya para ulama telah bersepakat tentang keshahihan riwayat dari orang kafir yang masuk Islam dan mayoritas shahabat memiliki kriteria semacam itu. Mereka juga bersepakat diterimanya syahadat (persaksian) dari orang tersebut dan dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara persaksian dan periwayatan, wallahu a'lam.

Tidak ada perbedaan mengenai pengharalnan berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, baik berkaitan dengan masalah hukum atau bukan, seperti targhib (anjuran dan motivasi), tarhib (ancaman dan intimidasi), mawa'izh (nasihat) dan lain sebagainya. Semua itu hukumnya haram, termasuk dosa besar dan sejelekjeleknya perbuatan buruk.

Haram menjadikan riwayat maudhu'(palsu) bagi orang yang telah mengetahui bahwa hadits tersebut maudhu' atau bagi orang yang persangkaannya lebih kuat untuk mengatakan bahwa hadits itu maudhu'. kemudian tidak menerangkan tentang keadaan riwayat tersebut, maka ia termasuk dalam ancaman ini, dikategorikan dalam jajaran para pendusta atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. (lihat syarah shahih Muslim Oleh Imam Nawawi rahimahullah)

Memperingatkan agar tidak berdusta kepada Nabi, karena hal itu merupakan kejahatan besar, tidak sama dengan berdusta kepada selainnya, karena haknya lebih besar, dan hak syariat lebih utama, serta karena berdusta kepada beliau merupakan dalih untuk merusak syariat dan merusak agamanya, 

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan hukuman bagi pendusta yang berdusta, yaitu menyediakan tempat di neraka dan bersiap-siap memasukinya pada hari kiamat, sebagai balasan atas perbuatannya berdusta kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, juga sebagai peringatan dan menakut-nakuti manusia agar mereka tidak melakukan dosa besar ini.  Ini adalah untuk mereka yang dengan sengaja dan sengaja berdusta tentang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. 

Berdusta tentang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah menisbatkan kepada beliau sesuatu yang tidak pernah beliau ucapkan, lakukan, atau setujui.

Dibolehkan memberinama dengan nama-nama para nabi. Dan di dalamnya: Peringatan agar tidak menisbatkan sesuatu yang tidak benar kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-

----------------------
Syarah Shahih Muslim Imam An Nawawi
Syarah Al-Durr al-Sunniyah

Posting Komentar