عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الـمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ. حديث حسن رواه الترمذي وغيره هكذا
Dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ’anhu, dia berkata: “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya)
Hadits ini menjadi salah satu Indikator dan bukti akan
baik buruknya keislaman seseorang,
Jadi bukan sekedar mengaku islam, bukan sekedar nama
semata, bukan sekedar islam KTP istilahnya. Atau juga bukan sekedar identitas
tanpa fakta, tanpa didukung oleh realita dan bukti nyata.
Akan tetapi tanda baiknya keislaman seseorang, tanda bermutunya
keislamannya seseorang, bila dia telah meninggalkan, atau jika dia sanggup menjauhi
segala hal-hal yang tidak bermanfaat baginya, yang tidak berguna baginya, yang
tidak mendatangkan keuntungan, baik itu dalam urusan dunia ataupun untuk
akhiratnya.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi. Dan Imam
An Nawawi menghukumi hadits ini sebagai
hadits yang hasan. Sehingga hadis ini dapat dijadikan sebagai hujjah, dasar
atau pedoman dalam kita beramal.
Imam Ibnu Daqiqil Ied Rahimahullah
dalam Syarah Arbain hadits ke 12 :
beliau berkata : Diriwayatkan dari Imam Al Hasan Rahimahullah,
ia berkata : “Tanda bahwa Allah menjauh dari seseorang yaitu apabila orang itu
sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna bagi kepentingan akhiratnya”.
Beliau Rahimahullah melanjutkan, bahwa Abu Dawud Rahimahullah
berkata : “Ada 4 Hadits yang menjadi dasar bagi tiap-tiap perbuatan, salah
satunya adalah Hadits ini”.
Dalam hadits ini sangan jelas mengisyaratkan salah satu
standar bagusnya kualitas keislaman, ketundukan, dan kesempurnaan iman
seseorang adalah ia meninggalkan segala sesuatau yang tidak bermanfaat baik
segi perkataan atau perbuatan, baik manfaat dalam urusan dunia maupun akhirat.
Sebaliknya, di antara keburukan kualitas keislaman
seseorang adalah dia mengerjakan yang tidak bermanfaat baginya.
Di sebutkan dalam At Tuhfah Ar Rabbaniyah, Syarah hadits No.
12 ini
Syaikh Ismail bin Muhammad Al Anshari Rahimahullah
mengatakan: “Sesungguhnya di antara jeleknya keislaman seseorang adalah dia
mengerjakan hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya.”
Syaikh juga mengatakan: “Anjuran untuk menyibukkan diri
dengan hal yang bermanfaat, yaitu apa-apa yang membawa keuntungan bagi
seseorang untuk akhiratnya, berupa Islam, Iman, dan Ihsan.
Hadits ini juga mengisyaratkan agar seorang muslim
menaikan kualitas dirinya dengan dianjurkan menggeluti dan menyibukkan diri
dengan hal-hal yang bermanfaat
Sebaliknya menyibukkan diri dalam urusan yang tidak
bermanfaat akan melupakannya dari kebaikan dan amalan-amalan yang bermanfaat.
Sebab ketika seseorang sibuk dengan kebatilan maka dia
tidak mungkin sibuk dengan kebaikan.
Hadis ini merupakan standar dalam beraktivitas
sehari-hari, dalam ucapan atau perbuatan, apa yang boleh kita ucapkan, apa yang
boleh kita tanggapi, apa yang boleh kita baca, apa yang boleh kita amalkan, apa
yang boleh kita lihat.
Dan standarnya ternyata sangatlah mudah dan sangatlah jelas.
Yaitu sebelum kita melakukan suatu amalan, sebelum kita
berkata-kata,
Atau ketika kita hendak melihat suatu kejadian atau suatu
konten dimedia sosial dan yang lainnya.
Maka terlebih dahulu kita bertanya kepada diri kita,
apakah urusan ini membawa manfaat untuk kita atau tidak.
Jika sampai pada satu kesimpulan bahwa amalan ini, atau perbuatan
itu tidak membawa manfaat apapun dari urusan dunia kita apalagi akhirat kita.
Maka tinggalkan!
Kenapa? Karena, agama kita dipertaruhkan di sini.
Keislaman kita dipertaruhkan.
Kalau kita mampu mengendalikan diri untuk tidak ikut
campur, tidak ikut mengomentari, tidak masuk didalamnya, karena setelah kita
simpulkan tidak membawa manfaat.
Maka itu bukti nyata bahwa Islam telah menyatu dengan
diri kita. Kita telah menjiwai islam sebagai agama bagi kita, syariat Islam itu
betul-betul mengalir bersama didalam darah kita, akhlak kita, perilaku kita
betul-betul telah mencerminkan akan syariat Islam. Karena Islam tidak pernah
mengajarkan, tidak pernah merestui umatnya untuk berbuat sia-sia.
Disini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ
المَرْءِ
Di antara baiknya keislaman seseorang Yaitu di antara
bagusnya keimanan, keyakinan, kepasrahan, dan ketundukkan seseorang.
(Min) artinya ‘dari’, namun dalam konteks kalimat ini
bermakna untuk menyatakan sebagian.
Maka, diartikan: di antara baiknya keislaman seseorang,
yaitu salah satu ciri atau standar baiknya keislaman, di antara ciri-ciri dan
standar lainnya.
تَرْكُهُ مَا لَا
يَعْنِيْهِ
Dia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat Yaitu dia
meninggalkan perkara yang tidak membawa faidah, dan juga sia-sia, bagi
kehidupan dunia dan lebih lagi bagi akhiratnya, dan tidak membawa maslahat bagi
agama dan kebutuhan dirinya.
Didalam kitab Tuhfah Al Ahwadzi Syaikh Al Mubarkafuri Rahimahumullah
mengutip perkataan dari Al Qari sebagai berikut :
Berkata Al Qari tentang makna ‘Meninggalkan yang tidak bermanfaat’:
“yaitu apa-apa yang tidak urgen, tidak penting dan tidak layak, baik secara
ucapan dan perbuatan, pandangan dan pemikiran.”
Hakikat dari “apa-apa yang tidak bermanfaat” adalah
apa-apa yang tidak
dibutuhkan secara mendesak dalam urusan agama dan dunia, dan
tidak membawa manfaat dalam meraih keridhaan Rabbnya, sebisa mungkin di kehidupannya
itu tidak ada hal-hal yang tidak bermanfaat.
Allah subhanahu wata’ala berfirman di dalam QS Al-Mu'minun:3
وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنِ ٱللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
Dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, (atau yang sia sia).Ibnu Katsir didalam tafsirnya menyebutkan : “Yaitu dari hal-hal yang batil yang pengertiannya mencakup pula hal-hal yang musyrik, seperti yang dikatakan oleh sebagian ulama. Juga hal-hal maksiat seperti yang dikatakan oleh sebagian ulama yang lainnya. Mencakup pula semua perkataan dan perbuatan yang tidak berguna.”
Didalam ayat lain yaitu QS Al Furqon : 72 Allah Allah subhanahu wata’la berfirman
وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا۟ باِللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا
مَرُّوا۟ كِرَامًا
mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam juga menyatakan:
مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ
فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Hendaknya dia berkata yang baik atau diam”. (HR. Bukhari dan Muslim)Berkata yang baik, sehingga perkataannya membawa manfaat. Atau kalau dia tidak bisa berkata yang baik, maka hendaknya diam. Karena perkataan yang keluar dari lisan kita, akan dimintai pertanggungjawaban
Allah subhanahu wataala berfirman:
مَا يَلۡفِظُ مِنۡ قَوۡلٍ اِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيۡبٌ عَتِيۡدٌ
بالله
التوفيق والهداية
والسلام
عليكم ورحمة الله وبركاته

Posting Komentar