Shahih: Sunan Abu Dawud (no. 4607), Sunan at-Tirmidzi (no. 2676), Sunan Ibnu Majah (no. 42, 43), Musnad Ahmad (IV/126-127)/17185, dan Sunan ad-Darimi (I/44)
عَن أَبي نَجِيحٍ العربَاضِ بنِ سَاريَةَ رضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوعِظَةً وَجِلَت مِنهَا القُلُوبُ وَذَرَفَت مِنهَا العُيون، فَقُلْنَا: يَارَسُولَ اللهِ! كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوصِنَا،
Dari Abu Najih al-Irbadh bin Sariyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati kami dengan suatu nasihat yang menjadikan hati bergetar dan mata menangis, lalu kami berkata, “Ya Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat.”
قَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عز وجل وَالسَّمعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ،
Beliau menjawab, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, mendengar dan patuh meskipun yang menjadi pemimpin kalian seorang budak.
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرَى اخْتِلافَاً كَثِيرَاً، فَعَلَيكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المّهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ،
Baransiapa yang hidup sepeninggalku, dia akan melihat banyak sekali perbedaan. Maka, hendaklah ia berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing. Gigitlah ia dengan gigi geraham.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فإنَّ كلّ مُحدثةٍ بدعة، وكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ»
Waspadalah kalian dari perkara yang baru dan setiap bid’ah adalah sesat.”
رواه أبو داود والترمذي وقال: حديث حسن صحيح.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”
Penjelasan Hadis:
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selalu menyeru para sahabatnya kepada kebaikan dan memperingatkan mereka dari kemungkaran, serta menasihati dan mengingatkan mereka dari waktu ke waktu. Dalam hadis ini, Abdul Rahman bin Amru al-Salami dan Hujjar bin Hujjar berkata,
“Kami mendatangi al-Arrabad bin Sariyah,” yakni, kami mendatanginya: Kami mendatanginya, dan dia termasuk orang yang diturunkan ayat, “Dan janganlah sekali-kali kamu menimpakan suatu musibah kepada orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu untuk mengangkut kamu, kamu berkata, ‘Aku tidak menemukan sesuatu yang dapat mengangkut kamu.’ (At-Taubah: 92) Yakni, tidak ada di antara mereka yang memiliki kendaraan, seperti kuda, unta, dan sebagainya, yang dipersiapkan untuk berjihad, lalu kamu berikan kepada mereka untuk kamu pergunakan berperang dengan kendaraan itu:
“Kami datang kepadamu sebagai tamu dan orang yang kembali“, yakni sebagai orang yang sabar dan penuntut ilmu, yakni mendapatkan cahaya ilmu darimu.”
Al-Arbād berkata, “Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah salat bersama kami pada suatu hari, kemudian beliau berpaling kepada kami.” Yakni, beliau bersabda, “Kami datang kepada kalian sebagai tamu dan orang yang kembali.” “Beliau berkhotbah dengan fasih kepada kami,” yakni: Beliau berbicara kepada kami dan mengingatkan kami dalam sebuah khotbah singkat yang mengandung banyak makna, ‘yang darinya kedua matanya meneteskan air mata,’ yakni: Air mata mengalir darinya, dan hati menjadi takut kepadanya, yakni: Takut dan gentar.
Beliau bersabda, “Ada seorang di antara para hadirin yang berkata: “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah khotbah perpisahan,“ yakni khotbah seorang musafir yang sedang berpisah, ‘apa yang engkau titipkan kepada kami?’ Yakni, apa yang engkau anjurkan kepada kami?”
Beliau bersabda, “Aku titipkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah,” yakni, melaksanakan apa yang diwajibkan dan meninggalkan apa yang dilarang, serta “mendengar dan taat,” yakni, kepada para pemimpin, “meskipun dia seorang budak dari Habasyah,” yakni, seorang budak: “Karena jika ada di antara kalian yang hidup setelahku,“ yakni, setelah kematianku, ‘kalian akan melihat banyak perbedaan’ dalam agama dan hal-hal lainnya.”
Nabi kemudian membimbing mereka kepada obat yang paling berguna jika terjadi banyak perbedaan, dengan mengatakan, “Ikutilah sunnahku,” yakni, jalan dan pendekatanku: Jalan dan pendekatanku, dan Sunnah para Khalifah yang saleh, yakni, mereka yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan dibimbing kepada kebenaran, yaitu empat Khalifah yang saleh: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Ibnul Khattab, Utsman Ibnul Affan dan Ali Ibn Abi Thalib - semoga Allah meridhai mereka semua -,
“Berpegang teguhlah kalian pada mereka,” yakni, pada sunnahku dan sunnah para penggantiku, beliau mengkhususkan kata “mereka” meskipun yang dimaksud adalah dua orang, karena keduanya merupakan satu kesatuan, “dan gigitlah mereka dengan gigi geraham kalian.” Yakni, gigitlah mereka dengan gigi geraham kalian,” yakni, gigitlah dengan gigi geraham kalian:
“Dan waspadalah,” maksudnya: waspadalah dan jauhilah, ‘dan perkara-perkara yang diada-adakan,’ maksudnya: perkara-perkara yang muncul kemudian yang bertentangan dengan asalnya, ‘karena setiap perkara yang diada-adakan dalam agama dan syariat Allah -Ta'ālā- adalah bid'ah.’ Maksudnya: perkara yang diada-adakan: Metode yang diciptakan dalam agama, dan setiap bid'ah adalah jalan kesesatan, yaitu: menyesatkan dan menyesatkan pemiliknya.
Di dalam hadits: Anjuran dan penekanan kuat untuk berpegang teguh pada Sunnah Nabi saw dan Sunnah Khalifah yang mendapat petunjuk, serta larangan dan peringatan keras untuk melakukan bid'ah dalam agama. (Sumber: Al-Durr al-Sunniyyah)

Posting Komentar