01. Kitab Niat - 02. Bab Mengikhlaskan Niat Untuk Allah Ta'ala (Hadits no. 3, 4, 5)

Hadits no. 3

 نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرُ فَقِيهٍ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

Semoga Allah menyenangkan seseorang yang mendengarkan perkataanku lalu menyampaikannya. Berapa banyak orang yang membawa fiqih/ilmu tetapi ia bukanlah orang yang faqih/berilmu, dan beberapa banyak orang yang membawa fiqih/ilmu kepada orang yang lebih faqih/berilmu darinya.

 ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُؤْمِنٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَالنَّصِيحَةُ لِوُلَاةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

Tiga perkara dimana hati orang beriman tidak akan berkhianat kepadanya: mengikhlaskan perbuatannya hanya karena Allah, memberi nasehat kepada penguasa kaum muslimin dan bergabung dengan jama'ah (kelompok) mereka. Karena doa mereka akan selalu menyelimuti (meliputi) dibelakang mereka.

HR. Ibnu Majah 3056 dan Ahmad 4/80
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair: telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Muhammad bin Ishaq dari Abdussalam dari Az Zuhri dari Muhammad Jubair bin Muth'im dari Bapaknya, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri di kaki bukit Mina seraya bersabda: 
------------------------------------------------------

Hadits no. 4

 إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian."

HR. Muslim 2654, Ibnu Majah 4143 dan Ahmad 2/285
Telah menceritakan kepada kami 'Amru An Naqid: Telah menceritakan kepada kami Katsir bin Hisyam: Telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Burqan dari Yazid bin Al Asham dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

Penjelasan Hadis:

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengajari kita bahwa manusia itu tidak dibedakan berdasarkan penampilannya yang bagus dan hartanya yang melimpah, tetapi berdasarkan kesucian hati, rasa takut kepada Allah, dan kesungguhannya dalam beramal saleh, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ini. 

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan tidak pula kepada harta kalian:

Yaitu Allah ta'ala tidak melihat tubuh para hamba, apakah besar atau kecil, sehat atau tidak sehat; Allah ta'ala tidak melihat bentuk rupa, apakah cantik atau jelek; Allah ta'ala tidak melihat harta, apakah kaya atau miskin; Allah ta'al tidak meminta pertanggungjawaban para hamba-Nya atas semua itu dan kesenjangan di antara mereka, 

Tetapi Allah ta'ala melihat hati kalian,” yakni: Yakni, ketakwaan, keyakinan, keikhlasan, ketulusan, keikhlasan, niat, kemunafikan, reputasi, dan semua perilaku baik dan buruk lainnya, serta amal perbuatan kalian.

Allah ta'ala melihat amal kalian dari sisi kebaikan dan keburukannya, memberi pahala dan hukuman, tidak ada hubungan antara Allah dengan makhluk-Nya kecuali dengan ketakwaan, barangsiapa yang bertakwa, maka dia lebih dekat kepada Allah dan lebih mulia di sisi-Nya. 

Dia tidak boleh bangga dengan hartanya, kecantikannya, tubuhnya, anak-anaknya, istananya, atau apa pun dari dunia ini sama sekali, tetapi jika Allah memberinya nikmat dengan ketakwaan, ini adalah salah satu nikmat Allah baginya; dia harus memuji Allah karenanya, dan jika dia dikecewakan, dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. 

Nasihat untuk bersandar kepada amalan dan niat yang baik, dan peringatan agar tidak bersandar pada penampilan luar tanpa memperbaiki batin. 

Pengaruh hati terhadap kebaikan dan keburukan.

------------------------------------

Hadits no. 5

 إِنَّمَا الْأَعْمَالُ كَالْوِعَاءِ إِذَا طَابَ أَسْفَلُهُ طَابَ أَعْلَاهُ وَإِذَا فَسَدَ أَسْفَلُهُ فَسَدَ أَعْلَاهُ

 "Sesungguhnya amalan seseorang itu bagaikan bejana, jika bawahnya baik  maka atasnya pun ikut baik, namun jika bawahnya rusak maka permukaannya pun ikut rusak."

HR. Ibnu Majah: 4199 , Ahmad 4/94
Telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Isma'il bin 'Imran Ad Dimasyqi telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Yazid bin Jabir telah menceritakan kepadaku Abu 'Abd Rabb dia berkata: saya mendengar Mu'awiyah bin Abu Sufyan berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Penjelasan Hadits : 

Maksudnya, jika permulaannya baik dengan niat yang baik, baik dan ikhlas, maka akhirnya pun akan baik dengan keridhaan Allah, karena niat adalah pangkal dan puncak suatu pekerjaan. 

Jika suatu amalan disertai dengan keikhlasan yang merupakan syarat diterimanya amalan tersebut, maka ia akan menjadi terang, dan jika disertai dengan kemunafikan atau yang semisal dengannya, maka ia akan menjadi gelap. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana diriwayatkan dalam dua kitab shahih: “Sesungguhnya setiap amal itu ada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.“ 

Jika kemunafikan masuk ke dalam amalan, maka rusaklah amalan tersebut, jika kemunafikan menyertai awal amalan, maka rusaklah amalan tersebut, jika kemunafikan itu muncul di tengah-tengah amalan, lalu dibendung/dicegah, maka tidak akan merusak amalan tersebut, dan jika tidak dibendung, maka rusaklah amalan yang di dalamnya terdapat kemunafikan.

Menunjukkan pentingnya niat dalam pekerjaan/amalan, dan bahwa kebaikan dan keburukan amal terkait dengan NIAT.

Posting Komentar