01. Kitab Niat - 01. Bab Mengikhlaskan Niat Untuk Allah Ta'ala (Hadits no. 1, 2)

Allah taala berfirman:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).

(Al Bayyinah/98 : 5)

Faedah Ayat :

1. Perintah untuk mentauhidkan Allah azza wa jalla dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah saja, baik ibadah yang dhahir maupun yang batin serta berpaling dan meninggalkan yang bersebrangan dengan tauhid.
2. Keutamaan sholat dan zakat
3. Dengan tauhid, ikhlas, mendirikan sholat dan membayar zakat itulah agama yang lurus yang akan mengantarkan kepada surga

Hadits no. 1

 إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ  يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

"Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya ia akan mendapatkan sesuatu yang diniatkannya, barangsiapa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya untuk memperoleh dunia atau seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya." 

HR. Muslim 3530/Syarah Muslim 1907, diriwayatkan juga oleh Bukhari, An Nasai, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab telah menceritakan kepada kami Malik dari Yahya bin Sa'id dari Muhammad bin Ibrahim dari 'Alqamah bin Waqash Dari Umar bin Khattab dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

Hadits no. 2

مَنْ قَاتَلَ حَتَّى تَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ أَعْلَى فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

"Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi maka ia berada di jalan Allah 'azza wa jalla." 

HR. Abu Dawud 2517, An Nasai 3136, Ibnu Majah 2783, Ahmad 4/402
Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar, telah menceritakan kepada kami Syu'bah bin Murrah, dari Amr bin Murrah dari Abu Wail dari Abu Musa bahwa Seorang badui datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: "Sesungguhnya terdapat seorang laki-laki yang berperang agar disebut-sebut, dan berperang agar dipuji dan berperang agar mendapatkan rampasan perang dan berperang agar dilihat kedudukannya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: 


Penjelasan Hadits :

1) Niat adalah keinginan, dan tempatnya di hati; niat tidak bertempat di lisan dalam semua perbuatan; karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang merupakan teladan kita semua melakukan wudu, salat, puasa, sedekah, dan haji dengan tidak pernah melafalkan niatnya.

2) Seorang hamba wajib menghadirkan niat di semua ibadah; yaitu meniatkan niat ibadah, dan meniatkannya untuk Allah, bahwa dia melakukannya dalam rangka mengimplementasikan perintah Allah -Ta'ālā-.Inilah niat yang paling sempurna. Misalnya, ketika berwudu, ia meniatkan bahwa ia berwudu karena Allah, dan dalam rangka melaksanakan perintah Allah -Ta'ālā-.

3) Hadis ini menjadi tolok ukur bagi seseorang untuk mengukur semua amalnya yang bersifat batin; apakah di dalamnya dia ikhlas karena Allah -Ta'ālā- ataukah tidak?

4) Perbedaan manusia dalam amal perbuatan sesuai perbedaan niat mereka; sebagian orang niatnya mencapai puncak keikhlasan dan mutāba'ah (sesuai Sunnah) dalam perbuatan-perbuatan baik dan amal saleh, dan sebagian yang lain niatnya di bawah itu

5) Berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam wajib bagi setiap orang yang mampu, sebagaimana kondisi orang-orang mukmin terdahulu dari kalangan sahabat yang mulia yang berhijrah dari Mekah ke Madinah sebelum Mekah menjadi negeri Islam dan iman.

6) Menjelaskan perbedaan manusia dalam persoalan niat ketika perang; yang paling baik niatnya adalah yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi.

7) Jalan Allah ada satu, sedangkan jalan setan ada banyak; orang yang mendapat petunjuk adalah yang diberikan taufik oleh Allah -Ta'ālā- untuk menempuh jalan-Nya, sebagaimana firman-Nya: "Bahwa inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya."(QS. Al-An'ām: 153)

Sumber faedah hadits: 
Kitab Rauḥ wa Rayāḥīn Syarḥ Riyāḍiṣ-Ṣāliḥīn oleh Abdul Hadi bin Saeed Al-Bustani


TerlamaLebih baru

Posting Komentar